April 2, 2026
ChatGPT Asli Dituntut Oleh 45 Media, Dituding Langgar Hak Cipta



– Pengembang
chatbot
ChatGPT dan OpenAI sekali lagi menjadi sasaran gugatan oleh sebuah perusahaan media karena diduga melanggar hak cipta.

Kali ini, gugatan dilayakan oleh Ziff Davis, perusahaan media virtual yang membawahi lebih dari 45 media ternama seperti
IGN, CNET, PCMag, LifeHacker,
hingga
On a regular basis Well being
.

Pada berkas keluhan yang baru-baru ini dilaporkkan
The New York Occasions
, Ziff Davis mengklaim bahwa OpenAI secara sengaja dan berkali-kali menggunakan materi dari beberapa situs yang dikelolanya tanpa persetujuan, guna menciptakan respon (untuk menjawab permintaan atau pertanyaan para penggunanya).
chatbot
ChatGPT.

Perusahaan juga menyatakan bahwa OpenAI sudah melenyapkan information tentang hak cipta dari bahan yang dikumpulkan.

Tuntutan hukum diajukan di Pengadilan Federal Delaware, AS, setelah Ziff Davis mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan sejumlah besar salinan penuh dari materi yang menjadi hak milik mereka dalam kumpulan information WebText buatan OpenAI. Koleksi information tersebut pernah dipublikasikan dan akhirnya berhasil ditelusuri oleh Ziff Davis.

Induk outlet media
CNET, PCMag, LifeHacker
Ini juga mendorong pengadilan untuk melarang OpenAI dari “mengexploitasi” karyanya dan mendesak penghapusan seluruhnya.
dataset
Dan mannequin AI yang mencakup materi dari sumber di bawah Ziff Davis.

Merespons gugatan itu, juru bicara OpenAI Jason Deutrom menyampaikan bahwa mannequin kecerdasan buatan milik mereka dilatih dengan memakai information yang bisa diakses publik serta masih berpedoman pada prinsip-prinsip tersebut.
honest use
atau penggunaan wajar.

ChatGPT mendukung pengembangan kreativitas manusia, merangsang temuan saintifik dan penelitian medis, serta memperkuat kemampuan ratusan juta individu dalam rutinitas harian mereka. Kami melatih mannequin ini menggunakan informasi dari sumber terbuka dan menekankan pada nilai-nilai etika.
honest use
(penggunaan wajar),” kata Deutrom.

Bukan kasus pertama

Gugatan dari Ziff Davis ini menumpuk daftar perkara hukum yang sedang dihadapi oleh OpenAI terkait dugaan pelanggaran hak cipta.

Sekarang ini, perusahaan kecerdasan buatan yang mendapat dukungan dari Microsoft tersebut sudah dihadapkan dengan beberapa gugatan oleh berbagai pihak, termasuk
The New York Occasions,
Dow Jones bersama dengan para penulis dan seniman visible dituduh menggunakan ribuan karya terpencil secara ilegal untuk mengembangkan sistem kecerdasan buatan generatif mereka.

Sebaliknya, berbagai platform lain seperti Vox Media ( induk dari The Verge ), The Atlantic, The Monetary Occasions, serta The Related Press sudah terlebih dahulu mengesahkan kesepakatan izin konten bersama OpenAI, sesuai yang dikumpulkan.
KompasTekno
dari
The Verge
, Jumat (25/4/2025).

OpenAI meminta pemerintah mengendurkan ketentuan honest use.

Sebelumnya, di pertengahan Maret kemarin, OpenAI dikabarkan telah mengajukan permohonan kepada pemerintah Amerika Serikat agar merelaksasi peraturan yang melarang penggunaan bahan berhak cipta dalam proses pelatihan mannequin synthetic intelligence (kecerdasan buatan/ AI).

OpenAI menyatakan bahwa kebijakan yang lebih lentur bisa mendukung AS untuk mempertahankan posisi kepemimpinannya di kancah perlombaan AI dunia, khususnya ketika melawan tantangan dari Tiongkok.

Permintaan ini disampaikan dalam rangka usulan untuk Rencana Tindakan AI yang dicanangkan pemerintah Donald Trump.

Pada dokumen usulanannya, OpenAI mensuarikan perlunya kebijakan yang lebih menunjang kreativitas, salah satunya dengan mengurangi hambatan terhadap hak cipta dan merek dagang yang dinilai “terlalu memberatkan” bisnis teknologi AI.

Satu metodenya adalah dengan mengendurkan ketentuan
honest use
(penggunaan sewajarnya) untuk materi berhak cipta.

Truthful Use merupakan suatu prinsip dalam undang-undang merekam karya yang mengizinkan individu untuk menggunakan bahan terlindungi hak cipta tanpa persetujuan pemiliknya di beberapa situasi spesifik.

Di Amerika Serikat, ide tersebut diatur melalui Undang-Undang Hak Cipta tahun 1976 dan umumnya diterapkan dalam berbagai situasi seperti pengajaran, riset, kritik, laporannya berita, serta parodi.

Masalah kekayaan intelektual benar-benar merupakan tantangan signifikan untuk para pembuat AI. Style-model AI semacam ChatGPT diprogram dengan menggali informasi dari sejumlah besar information di dunia maya, mencakup laman internet, literatur, jurnal berita, serta bahan pustaka terbuka lainnya.

Banyak konten yang dapat ditemukan on-line memang dilindungi oleh hukum hak cipta, walaupun bisa dijangkau secara umum.

Ini merupakan pokok perdebatannya, sebab AI bisa mengolah dan “menyimak” konten tersebut tanpa persetujuan langsung dari pihak pencipta. Selain itu, pemegang hak cipta pun tak mendapat imbalan apapun.

Walaupun dihadapkan dengan sejumlah tuntutan hukum, OpenAI masih percaya bahwa metode mereka, yang menyarankan cara mendekati hal tersebut, tetap efektif.
honest use
Dan dengan mengecilkan batasan hak kekayaan intelektual dapat membawa keuntungan untuk pencipta sambil tetap melindungi kedaulatan AS di sektor AI serta keselamatan negara.